FPCI-Huawei Garisbawahi Tren, Potensi & Tantangan Memajukan Ekonomi Digital Asia Tenggara

07 Des 2021 Teknologi
FPCI-Huawei Garisbawahi Tren, Potensi & Tantangan Memajukan Ekonomi Digital Asia Tenggara

Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Huawei Indonesia menggelar konferensi digital yang mengusung tema “Advancing Southeast Asia’s Digital Economy: Trends, Potentials, and Roadblocks.”

Dihadiri oleh Pendiri dan Ketua FPCI Dr. Dina Patti Djalal, Vice President of Huawei Asia Pacific Jay Chen, Menteri Luar Negeri Malaysia Dato’ Saifuddin Abdullah, dan Wakil Sekretaris Jenderal Masyarakat Ekonomi ASEAN Satvinder Singh, konferensi ini diikuti oleh lebih dari 1.100 peserta dari negara-negara Asia Tenggara, Inggris, Bangladesh, Australia, India, Serbia, Amerika Serikat, Liberia, dan Pakistan.

Pendiri dan Ketua FPCI Dr. Dino Patti Djalal dalam sambutannya mengungkapkan bahwa ekonomi digital akan bertumbuh signifikan pasca pandemi. Warga Asia Tenggara terlihat lebih terbiasa untuk mengonsumsi barang dan jasa lewat dunia maya.

Ini tercermin dari angka konsumsi online yang telah bertumbuh ke angka 174 miliar dolar AS di tahun 2021, atau meningkat 74 miliar dolar AS dibandingkan tahun lalu (100 miliar dolar AS). Dino juga menyampaikan bahwa berkat penetrasi internet dan ditandatanganinya berbagai perjanjian dalam bidang digital di kawasan ini, potensi ekonomi digital ASEAN akan mencapai angka 363 miliar dolar AS pada tahun 2025.

“Angka-angka ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi digital yang luar biasa di Asia Tenggara. Diskusi yang digelar FPCI dan Huawei ini bertujuan melahirkan diskusi-diskusi yang inklusif antara pembuat kebijakan dan para ahli dari negara-negara Asia Tenggara maupun Tiongkok yang membahas perkembangan ekonomi digital terkini dan bagaimana arahnya ke depan,” tegas Dino, dalam siaran pers (07/12/21).

Menyatakan dukungannya terhadap pertumbuhan ekonomi digital ASEAN, Vice President of Huawei Asia Pacific Jay Chen menitikberatkan pada komitmen jangka panjang Huawei terhadap layanan komunikasi yang kritikal bagi kawasan ini.

Selain itu, penting pula untuk mengombinasikan konektivitas dengan cloud untuk mempercepat pemulihan ekonomi dan mendorong ekonomi yang terintegrasi dengan teknologi digital demi menuju ASEAN yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Kita sekarang berada di sebuah situasi unik dalam sejarah, yaitu ketika kemampuan kita untuk membangun dunia yang canggih selaras dengan kemampuan kita dalam menjadikan dunia lebih hijau dan berkelanjutan. Ekonomi hijau dan transformasi digital bisa dilebur untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan dengan cara menggabungkan kekuatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti konektivitas, cloud, dan kecerdasan artifisial (AI). Dengan menjadikan visi Masyarakat Ekonomi ASEAN sebagai peta jalan, kita bisa bersama-sama menyelaraskan strategi ASEAN Digital Masterplan 2025 dan mencarikan jalan menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN yang ideal dan memiliki ketahanan tinggi.”

Mengenai ASEAN Digital Masterplan, Sekretaris Jenderal Masyarakat Ekonomi ASEAN Satvinder Singh mengatakan bahwa kawasan Asia Tenggara telah mencapai setengah jalan rencana tersebut. 55 persen inisiatif yang harus diselesaikan pada tahun 2025 telah dicapai pada pertengahan tahun, menyisakan 35 persen yang sedang berjalan dan 10 persen yang masih harus dikerjakan.

Ia menambahkan, “Masyarakat Ekonomi ASEAN merepresentasikan sebuah visi untuk mengembangkan kawasan ekonomi yang terintegrasi dan kohesif bagi semua. Barang, jasa, investasi, dan bahkan SDM ahli bisa bergerak bebas di kawasan ini.”

Satvinder Singh memuji kolaborasi antara Huawei dan ASEAN, khususnya melalui program Seeds for the Future di kawasan Asia Tenggara. “Kami berharap, semakin banyak masyarakat ASEAN yang terdampak positif dari program ini.”

“Kami berterima kasih kepada Huawei atas kolaborasi yang kami nikmati bersama selama ini, termasuk dalam mengundang BRIN ke konferensi ini. Teknologi sangat penting untuk mendukung ekonomi yang berkelanjutan, inklusif, dan setara, adil secara sosioekonomi, dan ramah lingkungan. Layanan kesehatan, pembangunan ekosistem yang produktif, dan pengurangan emisi gas rumah kaca termasuk dalam hal-hal yang perlu diperhatikan," tutur Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi di Badan Riset dan Inovasi Negara (BRIN) Republik Indonesia, Dr. Mego Pinandito.

Konferensi FPCI-Huawei ini menggarisbawahi tiga topik utama yang relevan: (1) Memetakan jalan menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN yang ideal, (2) Sinkronisasi strategi ekonomi digital di Asia Tenggara, antara lain MPAC, RCEP, dan ASEAN Digital Masterplan 2025, dan (3) Mengintegrasikan ekonomi digital dan transisi digital di Asia Tenggara, terutama implikasi bagi individu, komunitas, dan bisnis.  ***JR/SR

 

Editor: Sarwono.

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment