Komut PGN Bicara Penghematan Investasi Pipa Blok Rokan Rp 2,1 Triliun, Seperti Kaset Rusak

08 Nov 2020 Nasional
Komut PGN Bicara Penghematan Investasi Pipa Blok Rokan Rp 2,1 Triliun,  Seperti Kaset Rusak

Komisaris Utama PT PGN Tbk Achandra Tahar mengklaim  bahwa PGN telah berhasil melakukan penghematan USD 150 juta atau setara Rp 2,1 triliun dalam menetapkan nilai investasi pemasangan pipa minyak sepanjang 367 km dalam Final Invesment Decision (FID), seperti dikutip dari beberapa media (4/11/2020).

Pernyataan berulang ulang yang disampaikan Achandra sejak bulan Juni, Juli, Agustus dan Oktober 2020 sampai sekarang itu, kalau dikampung saya itu ibarat kaset rusak.

Pasalnya, berita tentang penghematan itu sudah lama diberitakan oleh dia sendiri, awalnya dimulai pada 20 Juni 2020, kemudian diulang lagi oleh Direktur Utama PGN Suko Hartono pada 14 September 2020, yaitu beberapa hari setelah dimulainya pengelasan perdana ( firts welding)  pipa minyak blok Rokan.

Karena, awalnya usulan anggaran investasi senilai USD 450 juta merupakan hasil pra studi saja oleh tim tehnis Pertagas, namun setelah dilakukan FEED ( Front End Engineering Design ) dan DED ( Detail Engineering Design) wajar saja terkoreksi nilainya menjadi USD 300 juta.

Namun kalau tidak dianggap wajar, beri dong sanksi kepada tim tehnis yang membuat perencanaan awal  itu.

Sebab,  dari hasil FEED dan DED telah terpetakan secara detail jalur yang lebih pendek dan aman dari gangguan, disegmen mana pipa harus dibawah dan disegmen mana pipa boleh muncul diatas permukaan, serta detail rincian penggunaan pipa dari berbagai ukuran,  mulai ukuran 4 inchi sampai dengan 24 inchi dan letak station pengumpul dan pengontrolnya, dan menjadi hal yang lumrah dalam sebuah proyek hasil FID akan lebih rendah dari perkiraan awal pada tahap pra studi.

Mestinya yang harus disampaikan oleh Komisaris Utama atau lebih tepatnya oleh Direktur Utama PT PGN saat ini adalah sejauh mana perlunya PT Pertagas bermitra investasi 25 %, hal itu jauh lebih penting dijelaskan ke publik, mengingat berdasarkan hitungan ke ekonomian proyek investasi itu sangat menarik.

Karena memberikan nilai IRR (internal rate of return) 16,4 % dan  net present value (NVP) bisa mencapai USD 181,32 juta bila Pertagas tidak bermitra, namun jika bermitra 20 % saja, akan turun NPV nya hanya USD 145,06 juta.

Kemudian, seiring dengan pernyatan Dirut PGN Suko Hartono di majalah Gatra terbitan 15 - 21 Oktober 2020 dengan cover 'Anak Mantu Megawati di Blok Rokan'.

Suko menegaskan, "jika bermitra tidak memberikan manfaat bagi korporasi atau perusahaan dan malah membawa masalah dikemudian hari, lebih baik tak bermitra sekalian".

Nah, sesungguhnya realisasi pernyataan Suko itulah yang sekarang ditunggu oleh publik, apakah Pertagas masih perlu bermitra dengan PT Rukun Raharja Tbk atau PT Isar Gas, atau bahkan bisa jalan sendiri, karena untuk mendapatkan pembiayaan dari bank dalam negeri saja tentu akan sangat mudah, sudah pasti pihak bank akan berebut untuk membiayai invetasi Pertagas, hanya butuh USD 75 juta saja, karena proyeknya sangat layak.

Perlu diketahui, meskipun dalam studi dan rilis PGN dan Pertagas dikatakan pipa itu akan mengalirkan minyak sebanyak  250.000 barel perhari, namun kenyataannya produksi minyak di blok Rokan hari ini hanya 170.000 barel perhari dengan tarif USD 2,5 perbarel ( tolling fee pipa).

Sehingga penurunan produksi secara alamiah hanya dapat diatasi dengan melakukan pemboran beberapa sumur pengembangan setiap tahunnya dan bisa juga mengenjot produksi dengan metoda EOR ( Enhanced Oil Recovery), namun biayanya mahal, sementara ini hanya Chevron yang berhasil menerapkan tehnologi ini.

Selain itu, sebaiknya lebih bagus dijelaskan secara transparan bagaimana mekanisme konsorsium EPC   PGASolution dengan Patra Driling Contractor ( PDC) bernilai Rp 2, 1 triliun dalam memilih sub kontraktornya, apakah melalui proses seleksi atau main tunjuk langsung ?.

Karena diluar sudah pada ribut, kalau kedua konsorsium anak usahanya Pertamina itu mensub kontrakan semua pekerjaan itu, terus apa fungsi PGASoluiton dan PDC sebagai perusahaan EPC ?, apa bukan nanti dikatakan bahwa  perusahaan itu sebagai calo saja.

Termasuk, PGN atau Pertagas harus menjelaskan ke publik mengapa pengadaan pipanya PT Krakatau Steel senilai Rp 1.9 triliun harus menunjuk lagi konsorsium  PT KHI Pipe Industri - PT Bakrie Pipe Industri dan Konsorsium PT Indal Steel Pipe. Agar semua terang benderang. ***Jr.

Penulis: Yusri Usman, Direktur Eksekutif CERI




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Jadwal Sholat

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, instagram dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Apakah perlu adanya tindakan Lockdown di Indonesia untuk mengatasi penyebaran virus Covid-19?
  Sangat Diperlukan
  Diperlukan
  Tidak Begitu Diperlukan
  Sangat Tidak Perlu