Literasi Digital Sulawesi 2021, Dakwah yang Ramah dan Etis di Media Sosial

12 Jul 2021 Al-Islam
Literasi Digital Sulawesi 2021,  Dakwah yang Ramah dan Etis di Media Sosial

Polewali Mandar – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual di Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, Senin (12/07/21).

Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kali ini adalah “Dakwah yang Ramah di Internet”. Kegiatan ini diikuti oleh 671 peserta dari berbagai kalangan umur dan profesi. 

Program kali ini menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari Direktur NU Online dan islami.co, Savic Ali; pendiri dan pemimpin SKENA, Iksan Bangsawan; Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin, Dr. Firdaus Muhammad, MA.; dan presenter TV, Ajeng Mawaddah Puyo.

Adapun yang bertindak sebagai moderator adalah Daniel Hery selaku penyiar radio dan TV. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Pemateri pertama adalah Savic Ali yang membawakan tema “Pemanfaatan Internet untuk Menyebarkan Konten Positif bagi Pemuka Agama”. 

Menurut Savic, kita hari ini ibarat hidup di bawah awan gelap kebencian. Ungkapan kebencian begitu mudah ditemukan di internet. Fakta lain diungkap Savic bahwa masyarakat Indonesia pada dasarnya religius. Oleh karenanya, agama menjadi domain yang sangat sensitif.

“Maka buat para mubaligh, ulama, Islamic scholar sangat penting untuk aktif di dunia digital. Siapapun yang berkepentingan dengan edukasi keIslaman agar pemahaman keagamaan masyarakatnya baik, mau tidak mau dia harus pakai platform digital, karena ada 171 juta orang di Indonesia yang menggunakan internet,” katanya. 

Berikutnya, Iksan Bangsawan menyampaikan materi berjudul ”Bijak di Kolom Komentar“. Dalam presentasinya Iksan membagikan apa-apa yang harus pengguna perhatikan sebelum mengirim komentar di media sosial.

Pengguna memang bebas berekspresi dan menyampaikan pendapat di media sosial, tetapi perlu juga menjaga hak atau reputasi orang lain. Selain itu, penting untuk menjaga keamanan nasional atau ketertiban masyarakat dan moral publik.

“Kalau kita terlalu bebas, itu sebenarnya ada aturannya, yaitu di UU ITE Pasal 27 Ayat (3),” ujarnya. 

Sebagai pemateri ketiga, Firdaus Muhammad membawakan tema tentang “Literasi dalam Berdakwah di Dunia Digital”. Menurut dia, budaya digital suka tidak suka kita harus menerimanya, dia terbentuk seiring kemunculan dan penggunaan media digital.

Dia mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat. Dia melahirkan budaya baru yang butuh edukasi. “PR besar kita, bagaimana media sosial dimanfaatkan untuk konten positif bermuatan dakwah,” ungkap Firdaus. 

Adapun Ajeng Mawaddah Puyo sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema “Berinternet Sehat”. Ajeng dalam paparannya memberikan tips internet sehat, diantaranya jangan sembarang memberikan identitas pribadi kepada orang lain.

Selain itu, hati-hati menerima permintaan pertemanan, hati-hati bertemu orang yang baru dikenal lewat internet, dan saring sebelum sharing. Ajeng pun mengajak masyarakat digital menerapkan internet sehat sejak dini. 

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator.

Terlihat antusias dari para peserta yang mengirimkan banyak pertanyaan kepada para narasumber. Salah satunya yaitu “Bagaimana pendapat Mas Savic tentang dakwah yang dibawakan mengarah juga ke unsur politik dan mendukung politikus tertentu?” tanya Hendrawan kepada Savic Ali.

“Kita harus mengakui dalam sejarah Indonesia, agama itu selalu berkelindan sama politik. Walaupun saya tidak sepenuhnya setuju, tapi saya bilang tidak masalah. Karena sejarah kita sejak dulu, sejak Syarikat Islam, Syarikat Dagang Islam, PERSIS, bahkan NU dan Muhammadiyah lahir, itu pada dasarnya berkelindan sama politik. Cuma waktu itu konteksnya perjuangan kemerdekaan,” jawab Savic.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan  materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.  ***JR/ SR.

 

Editor: Sarwono.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment